Cerita dari Sebuah Meja Makan

0 0
Read Time:2 Minute, 22 Second

Karena pagi tadi tidak sarapan, akhirnya keadaan memaksa diri ini untuk turun menuju kantin di lantai 3 ketika waktu masih menunjukkan pukul 12 sekian. Jam jam segini merupakan jam sibuk untuk mendapatkan sepiring nasi untuk makan siang, apesnya kalau udah agak telat menu makan siangpun tinggal sisa sisa, apalagi yang sisa adalah kuah yang mengandung kari ataupun sejenisnya. Mending makan nasi putih, karena lidah ini belum terbiasa makan makanan Melayu heheh lebay…..

Ketika makan siang hampir selesai, datanglah sahabat sekaligus senior menghampiri meja makan. Ngobrol ngobrol kesana kemari, menambah keakraban suasana. Berbagai tema obrolan diperbincangkan, mulai dari membicarakan pengantrian calon haji yang bisa sekitar 10 tahun untuk menunggu, hingga berita terhangat saat ini yaitu seorang ibu yang dengan nekatnya menggunting kain penutub kakbah (kiswah) ketika sedang menunaikan ibadah umroh. Memang negera ini sangat beraneka ragam jenis dan budaya, hingga beraneka sifat dan perilaku masyarakatnya.

Obrolan pun berpindah tema, karena saat ini adalah hangat hangatnya isu tentang pemilu, pemilu legislatif hingga pemilu pemilihan presiden maka menyinggung tentang calon kandidat yang layak menjadi presiden periode 2015-2019. Beliau sebenarnya dari jurusan elektro, tapi kalau mengenai politik beliau tidak mau ketinggalan dan selalu update informasi tentang negera tercinta, walau hanya diamati dari negara tetangga saja.

Saya pun mengiyakan ide dan cara pandang beliau mengenai keadaan negera ini, yang bila dibandingkan ketika zaman orde baru dengan zaman orde sekarang tingkat korupsinya sama saja. Bahkan, bila dulu zamanĀ  orde baru koruptornya hanya berpusat disatu keluarga, sangat berbeda dengan sekarang karena korupsi sudah menyebar serta mewabah hingga berbagai lapisan pemerintahan. Wabah korupsi ini sangat cepat menyebar dan menular, yang anti korupsi pun kalau sudah masuk kedalam sistem sangat mungkin juga ikut berperan aktif dalam perkorupsian ini. Bisa diibaratkan, korupsi itu ibarat ketika kita masuk kamar mandi, memang awalnya kita mengatakan ‘bau-bau’, tapi lama lama kita akan betah dan terbiasa dengan ‘bau-bau itu’, dan malah kita akan sangat menikmatinya, begitulah korupsi.

Baca juga:   Berkenalan dengan LaTeX dan LyX

Beliu memandang, negera kita ini memang sudah dalam tahap yang sangat mengkhawatirkan. Bagaiama tidak, rasa nasionalisme dan cinta negara dijiwa kaum generasi muda sudah hilang. Generasi muda sudah sangat acuh dengan keadaan negara tercinta ini. Dan bisa dibilang, mereka lebih memilih menyebutkan daerah atau sukunya sendiri, dibandingkan menyebut ‘saya warga negara Indonesia’. Mengatakan seperti ini, hampir bisa dibilang seperti ‘aib’ sehingga jangan sampai orang lain mengetahuinya. Beliau juga menganalogikan, sebenarnya di negera kita terdapat 3 golongan, 2 golongan minoritas yaitu masyarakat area hitam dan masyarakat area putih, dan yang 1 adalah golongan mayoritas yang bisa disebut masyarakat area abu-abu. Negara kita saat ini memerlukan sosok pemimpin yang kuat dan tegas, untuk menggerakkan masyarakat area putih dan mengajak golongan mayoritas masyarakat (area abu-abu) untuk bergabung bersama sama memerangi dan memberantas golongan hitam yang sangat merugikan seluruh masyarakat negara ini.
Semoga kita bisa menemukan sosok pemimpin seperti itu, agar harapan untuk Indonesia lebih baik masih ada, amiin.

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%
Facebook Comments

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published.