Modernisasi Angkringan dan Warung Kopi

Kalau berbicara mengenai Kota Ponorogo akan selalu berhubungan dengan warung kopi dan budaya ngopinya. Dipinggir jalan sering terdapat pedagang yang menjajakan kopinya yang sering dipanggil dengan istilah angkringan. Kalau Angkringan sendiri, menurut wikipedia berasal dari bahasa Jawa yaitu Angkring yang artinya alat dan tempat jualan makanan keliling yang menjual berbagai macam makanan dan minuman. Tidak hanya di Yogyakarta (jadi teringat berbagai kenangan di kota ini) dan Solo saja yang banyak terdapat angkringan, di Ponorogo (kota kelahiran) juga banyak terdapat angkringan yang mirip dengan kota-kota di Jawa Tengah dan Yogyakarta tersebut. Malahan, di Ponorogo terdapat satu jalan yang dinamakan dalan anyar (jalan baru) –walaupun sudah bertahun-tahun jalan tersebut masih bernama jalan baru– yang sepanjang jalan tersebut berderet rapi para penjual kopi dan yang membuat terkenal adalah penjualnya kebanyakan adalah wanita berusia muda (ketok nek tau mrono hahah, tapi iku biyen tenan to). Tapi bisa dibilang sudah bertahun-tahun tidak pernah ngopi disana, dan bahkan kapan terakhir lewat jalan itupun sudah tidak ingat lagi.

Beberapa malam yang lalu konco plek/sahabat lama dan juga sudah lama tidak berjumpa silaturahmi kerumah karena juga bertepatan dengan lebaran ini, itung itung mini reunion, akhirnya setelah makan bareng pergi juga ke salah satu angkringan dekat dengan tempat makan. Setelah ngobrol ngalor ngidul dan nyruput kopinya walaupun tidak terlalu suka ngopi (sukanya nyusu 🙂 ), sekilas tidak ada perubahan yang signifikan dari angkringan ketika waktu dulu dengan waktu sekarang. Tapi ada satu hal yang bisa dibilang membuat pelanggan betah duduk dan ngangkring di angkringan tersebut, yaitu dengan tersedianya fasilitas WI-FI. Tidak hanya improvisasi dalam hal menu, rasa maupun pelayanan untuk kepuasan pelanggan, tetapi juga ada usaha untuk membuat angkringan terlihat lebih modern dengan adanya WI-FI (tetap bayar dan tidak gratis). Dengan adanya wi-fi tersebut pastinya akan ada pintu rezeki lain dari jualan kopinya, yaitu pintu rezeki dari jualan voucher internet.

Baca juga:   Tamparan oleh Imam Ketika Sholat Isya'

Jadi teringat kata mutiara di buku Sinar Dunia pas SD, “There is a will there is a way” yang kurang lebih maksudnya dimana ada kemauan disitu ada jalan.

Facebook Comments
0 comments
0 likes
Prev post: Budaya Antri [Sebagian] Masyarakat PonorogoNext post: Antara Pratin dan Perhatian, Perjalanan di Kota Purbalingga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *