Kisah Romantis dibalik Sejarah Hari Raya Idul Adha

Kisah Romantis dibalik Sejarah Hari Raya Idul Adha, Pada hari ini Senin 12 September 2016 bertepatan Hari Raya Idul Adha 1437 H. Hari Raya Idul Adha selalu identik dengan hari raya kurban. Pada hari tersebut jutaan umat muslim diseluruh dunia berkumpul di tanah haram untuk melaksanakan rukun islam ke lima, ibadah haji. Bagi yang belum diberi kesempatan untuk pergi ke tanah suci, sangat dianjurkan (sunnah muakkad) untuk melaksanakan ibadah kurban, yaitu menyembelih kambing (untuk satu orang) atau sapi (untuk tujuh orang).

Awal mula dari Qurban ini adalah ketika Nabi Ibrahim as mengalami mimpi yang terjadi secara berturut-turut. Dalam mimpi tersebut, Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putera kesayangannya, Ismail. Ismail merupakan putera semata wayang dari Nabi Ibrahim yang sangat disayangi serta ditunggu selama bertahun-tahun untuk mendapatkannya. Menurut riwayat Siti Hajar hamil ketika Nabi Ibrahim sudah berusia 99 tahun. Dan karena demikian lamanya maka anak itu diberi nama Isma’il, artinya “Allah telah mendengar”. Hati Ibrahim sangat gundah gulana memikirkan mimpi yang telah dialaminya tersebut. Ismail adalah sosok anak yang penurut, patuh kepada orangtua dan perintah Allah. Selain itu, Ismail juga merupakan anak yang ceria dan memiliki pemikiran yang cerdas.

Karena perintah menyembelih Ismail itu turun langsung dari Allah makan tanpa menunda, Ibrahim menyampaikan perintah tersebut kepada Ismail berniat untuk menyembelihnya. Kalau saja Ibrahim dan Ismail adalah seperti kita manusia biasa, jangankan untuk menyembelih anak kesayangannya, perintah untuk sholat saja kadang berat untuk dilaksanakan tepat pada waktunya. Karena Ismail adalah nabi, jawabannya ketika ditanya Ibrahim pun dengan patuh berkata “Demi perintah Allah, aku bersiap dan patuh, melaksanakan dengan sepenuh jiwa ragaku.” Kalau kita, jawaban apa yang akan keluar ???

Baca juga:   Menjadi Orang Baik atau Orang Jahat ?

Sekelas nabi pun ketika Allah memerintah untuk menyembelih putranya, selalu ada godaan dan bujukan dari iblis untuk mengurungkan niatnya. Ketika iblis gagal mempengaruhi Ibrahim dan Ismail, dengan tidak hilang akal iblis berkata kepada Hajar kalau suaminya ingin membunuh anaknya. Siji Hajar merupakan istri yang sangat patuh kepada suaminya, maka dengan tegas menjawab “Seandainya itu benar perintah Allah, nyawaku sendiri pun siap dikorbankan demi tugasnya yang mulia itu, apalagi hanya dengan mengurbankan nyawa anaku, hal itu belum berarti apa-apa”.

Dari kisah tersebut sangat menyentuh saya, bagaimana tidak sebuah keluarga ikhlas dan taat melaksanakan perintah Allah, hal apa yang melandasinya ? Karena mereka bertaqwa kepada Allah, sang ayah selalu menjadi teladan yang baik, sang ibu juga seorang istri yang patuh, dan tentunya Ismail tidak akan menjadi anak yang berbakti dan penyabar jika tidak mendapat pendidikan dari ibunya. Jadi teringat meme islami, mendidik anak itu bukan dimulai ketika anak lahir, tetapi sejak memilih calon istri #cieee. Jadi penentu keharmonisan rumah tangga itu salah satu yang terpenting adalah sholehahnya seorang istri #uhuk uhuk.. bagi para calon istri, sholehah itu nomer satu bukan yang lain ya….

Belum lagi ketika Ismail masih bayi, Ibrahim membawa Ismail dan Siti Hajar untuk meninggalkan mereka ditengah padang pasir.Dengan berbekal tempat makanan berisi kurma dan tempat minum berisi air, Ibrahim meninggalkan keduanya. Siti Hajar mengikutinya dan bertanya, “Hendak ke manakah, wahai Ibrahim? Engkau meninggalkan kami di lembah yang tiada teman atau apa pun?”

Hajar mengulang pertanyaannya beberapa kali. Saat dilihatnya Ibrahim hanya diam, segera ia tersadar iapun mengganti pertanyaannya. “Apakah Allah yang menyuruhmu berbuat demikian?” tanyanya dengan kecerdasan luar biasa.

Baca juga:   Saldo Go-Pay Gratis dari Go-Jek

“Benar,” jawab Ibrahim.

“Jika demikian, maka Allah tak akan menelantarkan kami.” Kemudian Hajar kembali ke tempat semula, sedangkan Ibrahim melanjutkan perjalanannya.

Kurang romantis apalagi kisah yang dicontohkan oleh keluarga Nabi Ibrahim, mau dibandingkan dengan movie terromantis sekarang ? Misal dengan AADC (Ada Apa dengan Cinta) 1 dan 2, kalah jauh.. Rangga meninggalkan cinta tanpa alasan yang jelas selama 14 tahun, itu bukan waktu yang sebentar ya. Tiba-tiba tahun 2016 Rangga kembali, kalau dilihat sampai akhir movienya kedatangan Rangga itu merupakan kehancuran hubungan Cinta dan tunangannya (lupa namanya), padahal kan mereka sebentar lagi akan menikah. Mungkin yang suka sama film Korea akan bilang “A Moment to Remember” paling romantis setelah nonton akan nangis semingguan, endingnya kan jelas kalau nangis itu sedih, apakah romantis itu berakhir dengan tangis, jadi dimana romantisnya ? Atau mau dibandingkan dengan kisah Romeo dan Juliet serta Sam Pek dan Eng Thay, apakah romantis itu berakhir dengan kematian? Atau dengan film legendaris Titanic yang rating IMDB nya 7.7 ? pun ending ceritanya juga ada yang meninggal.

Sebuah keluarga yang berlandaskan dengan ketaqwaan kepada Allah yang pastinya akan berakhir dengan indah, indah tidak hanya di dunia saja tetapi hingga ke surgaNya

so sweet kan…

Facebook Comments

You may also like...

2 Responses

  1. putri says:

    mas ed pinteer nulis yaak jebul e..apik tulisane,bikin ketawa bumil usia 37week :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *