Budaya Antri [Sebagian] Masyarakat Ponorogo

Budaya antri adalah sesuatu hal yang sudah mulai terasa langka di Indonesia, khususnya di kota tercinta yaitu Ponorogo. Menurut artinya, antri adalah suatu proses yang dilakukan oleh beberapa orang dalam jangka waktu tertentu untuk melakukan sesuatu hal yang sama secara bergantian sesuai dengan urutan dan giliran. Arti dari antri tersebut sekarang seakan hanya sekedar slogan dan hanya sebagai salah satu materi didalam mata pelajaran PPKn (teringat ketika SD).

Kalau berbicara tentang budaya antri, jadi teringat kejadian siang tadi di pom bensin ketika ingin mengisi bahan bakar. Sudah menjadi hal yang biasa ketika mengisi bahan bakar selalu mengantri, apalagi ketika menjelang hari raya seperti ini antrianpun semakin mengular. Ada hal yang menarik tadi siang, karena kebetulan untuk pengisian bahan bakar hanya satu pompa yang berfungsi (yang lain habis) mau tidak mau banyak yang mengantri untuk mendapatkan bahan bakar tersebut. Dari depan sudah antri satu persatu, saya datang dan beberapa orang pun datang mengantri dibelakang saya, tiba tiba ada bapak-bapak yang juga ikut mengantri tapi tidak dari belakang, tapi langsung disamping orang belakang saya. Yang namanya hampir suang bolos, panaspun mulai menyengat kulit dan dengan lugas bapak yang antri dibelakang saya mengingatkan bapak-bapak yang ingin menyerobot antriannya. Maka terjadi sedikir percakapan, kurang lebih begini :

A: “Pak, antri rumiyen Pak (Pak, antri dulu Pak)”
B: Bapaknya pun menjawab “Aku yo antri (Saya juga antri)”

A: Antri saking wingking Pak (Antri dari belakang Pak)
B: La iyo aku iki wes melu antri (La iya aku juga sudah ikut antri ini)

A: La jenengan antrine riyen kulo (La bapak antrinya/datangnya duluan saya)
Dengan tanpa merasa malu ataupun bersalah, Bapaknya pun menjawab
B: Lek kalih sampeyan nggih riyen sampeyan (Kalau dengan kamu, memang datangnya duluan kamu)

Dalam hati sayapun ikut nggrundel, siang siang seperti ini ada aja yang ngajak gelut, kalau tidak di bulan puasa orang ini kayaknya sudah ngajak minum es dawet ini 🙂 . Memang kadang slogan “sing waras ngalah” bisa diterapkan untuk urusan seperti ini, dan akhirnya orang yang menganti dibelakang saya dengan ikhlas (mungkin) membiarkan Bapaknya untuk menyerobot antriannya. Dari kejadian ini jadi teringat tulisan saya sebelumnya, “”. Kalau dibaca sekilas tulisan tersebut seperti tidak terlalu penting, memang setara ya antara budaya mengantri dengan pelajaran Matematika ? Ketika tes masuk sekolah/universitas selalu ada tes Matematika, tapi tidak pernah ada tes untuk mengantri. Memang tidak ada, tapi budaya itu tidak bisa dipelajari dan dibentuk dalam waktu singkat (3/6 bulan) karena berhubungan dengan kebiasaan dan kesadaran, berbeda dengan mata pejalaran Matematika, untuk lolos tes masuk sekolah/universitas bisa dengan melakukan persiapan/dipelajari dalam beberapa bulan saja.

Baca juga:   Berkenalan dengan LaTeX dan LyX

Suatu kebiasaan yang dilakukan secara sadar dan suka rela tidak bisa dibentuk dalam waktu yang singkat, perlu proses dan juga perlu kesadaran untuk melakukannya, termasuk buada atri tersebut.

Yuk selain belajar Matematika dan mata pelajaran lainnya, mulai belajar dari awal mata pelajaran kesadaran “Mengantri” agar bisa menghargai diri sendiri dan orang lain.

Facebook Comments

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *